Tadabbur Surah Al-Baqarah Ayat 76–92 “Bila Hati Sudah Tahu Kebenaran, Tapi Ego Masih Enggan Tunduk”
وَاِذَا لَـقُوۡا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡآ اٰمَنَّا ۖۚ وَاِذَا خَلَا بَعۡضُهُمۡ اِلٰى بَعۡضٍ قَالُوۡآ اَ تُحَدِّثُوۡنَهُمۡ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيۡكُمۡ لِيُحَآجُّوۡكُمۡ بِهٖ عِنۡدَ رَبِّكُمۡؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ
76
Wa izaa laqul laziina aamanuu qooluuu aamannaa wa izaakhalaa ba'duhum ilaa ba'din qooluuu atuhaddisuunahum bimaa fatahal laahu 'alaikum liyuhaajjuukum bihii 'inda rabbikum; afalaa ta'qiluun
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman." Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, "Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?"
اَوَلَا يَعۡلَمُوۡنَ اَنَّ اللّٰهَ يَعۡلَمُ مَا يُسِرُّوۡنَ وَمَا يُعۡلِنُوۡنَ
77
Awalaa ya'lamuuna annal laaha ya'lamu maa yusirruuna wa maa yu'linuun
Dan tidakkah mereka tahu bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan?
وَ مِنۡهُمۡ اُمِّيُّوۡنَ لَا يَعۡلَمُوۡنَ الۡكِتٰبَ اِلَّاۤ اَمَانِىَّ وَاِنۡ هُمۡ اِلَّا يَظُنُّوۡنَ
78
Wa minhum ummiyyuuna laa ya'lamuunal kitaaba illaaa amaaniyya wa in hum illaa yazunnuun
Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga
فَوَيۡلٌ لِّلَّذِيۡنَ يَكۡتُبُوۡنَ الۡكِتٰبَ بِاَيۡدِيۡهِمۡ ثُمَّ يَقُوۡلُوۡنَ هٰذَا مِنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ لِيَشۡتَرُوۡا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيۡلًا ؕ فَوَيۡلٌ لَّهُمۡ مِّمَّا کَتَبَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ وَوَيۡلٌ لَّهُمۡ مِّمَّا يَكۡسِبُوۡنَ
79
Fawailul lillaziina yaktubuunal kitaaba bi aydddhim summa yaquuluuna haazaa min 'indil laahi liyashtaruu bihii samanan qaliilan fawilul lahum mimaa katabat aydiihim wa wailul lahum mimmaa yaksibuun
Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, "Ini dari Allah," (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.
وَقَالُوۡا لَنۡ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّاۤ اَيَّامًا مَّعۡدُوۡدَةً ؕ قُلۡ اَتَّخَذۡتُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ عَهۡدًا فَلَنۡ يُّخۡلِفَ اللّٰهُ عَهۡدَهٗۤ اَمۡ تَقُوۡلُوۡنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ
80
Wa qooluu lan tamassanan Naaru illaaa ayyaamam ma'duu dah; qul attakhaztum 'indal laahi 'ahdan falai yukhlifal laahu 'ahdahuuu am taquuluuna 'alal laahi maa laa ta'lamuun
Dan mereka berkata, "Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali be-berapa hari saja." Katakanlah, "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah, sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang Allah, sesuatu yang tidak kamu ketahui?"
بَلٰى مَنۡ كَسَبَ سَيِّئَةً وَّاَحَاطَتۡ بِهٖ خَطِيْۤـــَٔتُهٗ فَاُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ النَّارِۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ
81
Balaa man kasaba sayyi'atanw wa ahaatat bihii khatiii'atuhuu fa-ulaaa'ika Ashaabun Naari hum fiihaa khaaliduun
Bukan demikian! Barangsiapa berbuat keburukan, dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
وَالَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ الۡجَـنَّةِ ۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ
82
Wallaziina aamanuu wa 'amilus saalihaati ulaaa'ika Ashaabul Jannati hum fiiha khaaliduun
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.
وَاِذۡ اَخَذۡنَا مِيۡثَاقَ بَنِىۡٓ اِسۡرَآءِيۡلَ لَا تَعۡبُدُوۡنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا وَّذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَالۡمَسٰکِيۡنِ وَقُوۡلُوۡا لِلنَّاسِ حُسۡنًا وَّاَقِيۡمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّکٰوةَ ؕ ثُمَّ تَوَلَّيۡتُمۡ اِلَّا قَلِيۡلًا مِّنۡکُمۡ وَاَنۡـتُمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ
83
Wa iz akhazna misaqa bani isra'ila la tabuduna illallaha wa bil-walidaini ihsanaw wa zil-qurba wal-yatama wal-masakini wa qulu lin-nasi husnaw wa aqimus-salata wa atuz-zakah(ta), summa tawallaitum illa qalilam minkum wa antum muridun.
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, "Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat." Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang.
وَاِذۡ اَخَذۡنَا مِيۡثَاقَكُمۡ لَا تَسۡفِكُوۡنَ دِمَآءَكُمۡ وَلَا تُخۡرِجُوۡنَ اَنۡفُسَكُمۡ مِّنۡ دِيَارِكُمۡ ثُمَّ اَقۡرَرۡتُمۡ وَاَنۡـتُمۡ تَشۡهَدُوۡنَ
84
Wa iz akhaznaa miisaa qakum laa tasfikuuna dimaaa'akum wa laa tukrijuuna anfusakum min diyaarikum summa aqrartum wa antum tashhaduun
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu, "Janganlah kamu menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan mengusir dirimu (saudara sebangsamu) dari kampung halamanmu." Kemudian kamu berikrar dan bersaksi.
ثُمَّ اَنۡـتُمۡ هٰٓؤُلَاۤءِ تَقۡتُلُوۡنَ اَنۡفُسَكُمۡ وَتُخۡرِجُوۡنَ فَرِيۡقًا مِّنۡكُمۡ مِّنۡ دِيَارِهِمۡ تَظٰهَرُوۡنَ عَلَيۡهِمۡ بِالۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِؕ وَاِنۡ يَّاۡتُوۡكُمۡ اُسٰرٰى تُفٰدُوۡهُمۡ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيۡڪُمۡ اِخۡرَاجُهُمۡؕ اَفَتُؤۡمِنُوۡنَ بِبَعۡضِ الۡكِتٰبِ وَتَكۡفُرُوۡنَ بِبَعۡضٍۚ فَمَا جَزَآءُ مَنۡ يَّفۡعَلُ ذٰلِكَ مِنۡکُمۡ اِلَّا خِزۡىٌ فِى الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ۚ وَيَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ يُرَدُّوۡنَ اِلٰٓى اَشَدِّ الۡعَذَابِؕ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُوۡنَ
85
Summa antum ha'ula'i taqtuluna anfusakum wa tukhrijuna fariqam minkum min diyarihim tazaharuna alaihim bil-ismi wal-udwan(i), wa iy ya'tukum usara tufaduhum wa huwa muharramun alaikum ikhrajuhum, afa tu'minuna bibadil-kitabi wa takfuruna bi bad(in), fama jaza'u may yafalu zalika minkum illa khizyun fil-hayatid-dun-ya, wa yaumal-qiyamati yuradduna ila asyaddil-azab(i), wa mallahu bigafilin amma tamalun
Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (sesamamu), dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya. Kamu saling membantu (menghadapi) mereka dalam kejahatan dan permusuhan. Dan jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal kamu dilarang mengusir mereka. Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan
اُولٰٓٮِٕكَ الَّذِيۡنَ اشۡتَرَوُا الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا بِالۡاٰخِرَةِ فَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُمُ الۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنۡصَرُوۡنَ
86
Ulaaa'ikal laziinash tarawul hayaatad dunyaa bil aakhirati falaa yukhaffafu 'anhumul 'azaabu wa laa hum yunsaruun
Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong.
وَ لَقَدۡ اٰتَيۡنَا مُوۡسَى الۡكِتٰبَ وَقَفَّيۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِهٖ بِالرُّسُلِ وَاٰتَيۡنَا عِيۡسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ الۡبَيِّنٰتِ وَاَيَّدۡنٰهُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِؕ اَفَكُلَّمَا جَآءَكُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَهۡوٰٓى اَنۡفُسُكُمُ اسۡتَكۡبَرۡتُمۡۚ فَفَرِيۡقًا كَذَّبۡتُمۡ وَفَرِيۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
87
Wa laqad ataina musal-kitaba wa qaffaina mim badihi bir-rusul(i), wa ataina isabna maryamal-bayyinati wa ayyadnahu biruhil-qudus(i), afakullama ja'akum rasulum bima la tahwa anfusukumustakbartum, fafariqan kazzabtum wa fariqan taqtulun
Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami perkuat dia dengan Rohulkudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?
وَقَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌؕ بَل لَّعَنَهُمُ اللّٰهُ بِكُفۡرِهِمۡ فَقَلِيۡلًا مَّا يُؤۡمِنُوۡنَ
88
Wa qooluu quluubunaa ghulf; bal la'anahumul laahu bikufrihim faqaliilam maa yu'minuun
Dan mereka berkata, "Hati kami tertutup." Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka, tetapi sedikit sekali mereka yang beriman.
وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمۡۙ وَكَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَى الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا ۖۚ فَلَمَّا جَآءَهُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِهٖ فَلَعۡنَةُ اللّٰهِ عَلَى الۡكٰفِرِيۡنَ
89
Wa lammaa jaaa'ahum Kitaabum min 'indil laahi musaddiqul limaa ma'ahum wa kaanuu min qablu yastaftihuuna 'alal laziina kafaruu falammaa jaaa'ahum maa 'arafuu kafaruu bih; fala 'natul laahi 'alal kaafiriin
Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (Al-Qur'an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.
بِئۡسَمَا اشۡتَرَوۡا بِهٖۤ اَنۡفُسَهُمۡ اَنۡ يَّڪۡفُرُوۡا بِمَآ اَنۡزَلَ اللّٰهُ بَغۡيًا اَنۡ يُّنَزِّلَ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ عَلٰى مَنۡ يَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِهٖۚ فَبَآءُوۡ بِغَضَبٍ عَلٰى غَضَبٍؕ وَلِلۡكٰفِرِيۡنَ عَذَابٌ مُّهِيۡنٌ
90
Bi'samash taraw bihiii anfusahum ai yakfuruu bimaaa anzalal laahu baghyan ai yunazzilal laahu min fadlilhii 'alaa mai yashaaa'u min ibaadihii fabaaa'uu bighadabin 'alaa ghadab; wa lilkaafiriina 'azaabum muhiin
Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya, dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itulah mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan
وَاِذَا قِيۡلَ لَهُمۡ اٰمِنُوۡا بِمَآ اَنۡزَلَ اللّٰهُ قَالُوۡا نُؤۡمِنُ بِمَآ اُنۡزِلَ عَلَيۡنَا وَيَكۡفُرُوۡنَ بِمَا وَرَآءَهٗ وَهُوَ الۡحَـقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمۡؕ قُلۡ فَلِمَ تَقۡتُلُوۡنَ اَنۡـــۢبِيَآءَ اللّٰهِ مِنۡ قَبۡلُ اِنۡ كُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِيۡنَ
91
Wa izaa qiila lahum aaminuu bimaaa anzalal laahu qooluu nu'minu bimaaa unzila 'alainaa wa yakfuruuna bimaa waraaa'ahuu wa huwal haqqu musaddiqal limaa ma'ahum; qul falima taqtuluuna Ambiyaaa'al laahi min qablu in kuntum mu'miniin
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kepada apa yang diturunkan Allah (Al-Qur'an)," mereka menjawab, "Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami." Dan mereka ingkar kepada apa yang setelahnya, padahal (Al-Qur'an) itu adalah yang hak yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah (Muhammad), "Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?"
وَلَقَدۡ جَآءَکُمۡ مُّوۡسٰى بِالۡبَيِّنٰتِ ثُمَّ اتَّخَذۡتُمُ الۡعِجۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِهٖ وَاَنۡـتُمۡ ظٰلِمُوۡنَ
92
Wa laqad jaaa'akum Muusa bilbaiyinaati summat takhaztunmul 'ijla mim ba'dihii wa antum zaalimuun
Dan sungguh, Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti kebenaran, kemudian kamu mengambil (patung) anak sapi (sebagai sesembahan) setelah (kepergian)nya, dan kamu (menjadi) orang-orang zhalim.
“Bila Hati Sudah Tahu Kebenaran, Tapi Ego Masih Enggan Tunduk”
Dalam perjalanan hidup manusia, antara penyakit paling bahaya bukanlah kejahilan… tetapi hati yang tahu kebenaran namun tetap menolaknya.
Ayat 76 hingga 92 dalam Al-Quran bukan sekadar menceritakan sejarah Bani Israil. Ia sebenarnya sedang membuka satu demi satu penyakit hati manusia yang boleh berlaku pada sesiapa sahaja — termasuk kita hari ini.
Allah bukan sekadar mahu kita membaca kisah mereka, tetapi Allah mahu kita bertanya kepada diri sendiri:
“Adakah sifat itu juga ada dalam hati aku?”
1. Iman Pada Lisan, Tapi Tidak Dalam Hati
(Ayat 76–77)
Allah menceritakan tentang segolongan manusia yang apabila bertemu orang beriman, mereka berkata:
“Kami beriman.”
Namun apabila kembali kepada kelompok mereka, mereka mula mempertikaikan dan menyembunyikan kebenaran.
Mereka takut jika kebenaran itu memberi kemenangan kepada Islam.
Tadabbur
Inilah penyakit “double character”.
Di depan manusia:
nampak baik
nampak alim
nampak menyokong agama
Tetapi di belakang:
mempermainkan agama
mempertahankan ego
takut kehilangan kepentingan dunia
Allah mengingatkan bahawa: Tiada satu pun yang tersembunyi daripada pengetahuan-Nya.
Kadang manusia berjaya menipu orang lain…
tetapi mustahil dapat menipu Allah.
Muhasabah Diri
Berapa kali kita:
bercakap tentang agama di media sosial
share ayat Quran
tulis kata-kata dakwah
tetapi dalam masa sama:
masih menjaga dosa tersembunyi
masih ego untuk berubah
masih mempertahankan nafsu
Iman bukan sekadar apa yang ditulis di bio atau disebut di mulut.
Iman ialah apa yang mengubah hati dan tindakan.
2. Bahaya Bercakap Tentang Agama Tanpa Ilmu
(Ayat 78–79)
Allah menyebut tentang golongan yang tidak memahami kitab dengan benar, tetapi bercakap tentang agama mengikut hawa nafsu sendiri.
Kemudian Allah memberi amaran keras:
“Celakalah bagi orang yang menulis kitab dengan tangan mereka lalu berkata: Ini daripada Allah.”
Ayat ini sangat berat.
Kerana dosa memutarbelit agama bukan sekadar menyesatkan diri… tetapi turut menyesatkan manusia lain.
Tadabbur Zaman Sekarang
Hari ini terlalu mudah orang bercakap tentang agama:
potong ayat Quran ikut sedap
buat tafsiran sendiri
keluarkan hukum tanpa ilmu
jadikan agama sebagai content
Kadang yang dicari bukan reda Allah…
tetapi views, followers dan populariti.
Sedangkan agama bukan bahan hiburan.
Pengajaran Besar
Sebab itu ulama sangat berhati-hati dalam bercakap tentang agama.
Mereka lebih rela berkata:
“Aku tidak tahu.”
daripada bercakap tanpa ilmu.
Kerana satu ayat yang salah boleh mengelirukan ribuan manusia.
3. Merasa Diri “Ahli Syurga”
(Ayat 80–82)
Bani Israil merasakan bahawa mereka tetap akan selamat walaupun melakukan dosa.
Mereka berkata:
“Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari sahaja.”
Mereka terlalu yakin dengan status dan keturunan mereka.
Lalu Allah membetulkan pemikiran itu.
Tadabbur
Ramai manusia hari ini juga mempunyai penyakit sama:
rasa cukup baik
rasa dosa kecil tidak mengapa
rasa Allah pasti ampunkan tanpa taubat
Ada yang terlalu yakin dengan:
keturunan ustaz
nama Islam
imej baik
amal tertentu
tetapi lupa: Allah menilai hati, iman dan keikhlasan.
Bukan sekadar identiti luar.
Muhasabah
Masuk syurga bukan kerana kita “rasa layak”.
Tetapi kerana rahmat Allah.
Dan rahmat Allah sangat dekat dengan:
orang yang ikhlas
orang yang bertaubat
orang yang merendahkan diri di hadapan Allah.
4. Agama Bukan Ambil Yang Kita Suka Sahaja
(Ayat 83–86)
Allah menyebut perjanjian besar kepada Bani Israil:
sembah Allah sahaja
berbuat baik kepada ibu bapa
bantu orang miskin
menjaga solat
berkata baik sesama manusia
Namun mereka hanya mengambil sebahagian dan meninggalkan sebahagian lain.
Tadabbur
Inilah penyakit manusia: memilih agama ikut keselesaan diri.
Contohnya:
suka dengar ceramah motivasi, tapi malas solat
suka bercakap tentang syurga, tapi susah jaga mulut
suka sedekah, tapi masih menzalimi orang
Islam bukan buffet yang kita pilih ikut selera.
Islam datang untuk membentuk keseluruhan hidup manusia.
Pengajaran Mendalam
Kadang kita tidak menolak agama secara terang-terangan…
tetapi kita menolak sebahagian ajaran agama secara perlahan melalui sikap dan tindakan.
5. Bila Nafsu Lebih Tinggi Daripada Kebenaran
(Ayat 87)
Allah mengutus ramai nabi kepada Bani Israil termasuk Nabi Musa dan Nabi Isa.
Tetapi apabila para nabi membawa sesuatu yang tidak disukai oleh hawa nafsu mereka:
ada nabi didustakan
ada nabi dibunuh
Tadabbur
Masalah terbesar manusia bukan tidak tahu kebenaran.
Masalah sebenar ialah: manusia tidak suka bila kebenaran bercanggah dengan kehendaknya.
Sebab itu ego sangat bahaya.
Kadang manusia sanggup:
menolak nasihat
mempertahankan dosa
memusuhi orang yang menegur
hanya kerana ego tidak mahu tunduk
6. Hati Yang Keras Tidak Lagi Merasa Berdosa
(Ayat 88)
Mereka berkata:
“Hati kami tertutup.”
Hakikatnya hati mereka menjadi keras kerana terlalu banyak menolak kebenaran.
Tadabbur
Hati manusia boleh mati perlahan-lahan.
Mula-mula:
dosa terasa berat
Lama-lama:
dosa jadi biasa
Akhirnya:
tidak rasa bersalah langsung
Inilah bahaya dosa yang dilakukan berulang kali tanpa taubat.
Tanda Hati Mula Keras
susah menangis bila dengar Quran
malas berdoa
rasa berat untuk solat
mudah memandang rendah orang lain
dosa tidak lagi menakutkan
Sebab itu hati perlu sentiasa dibersihkan:
- dengan istighfar
- Quran
- zikir
- taubat
- muhasabah
7. Dengki Boleh Menutup Pintu Hidayah
(Ayat 89–91)
Bani Israil sebenarnya mengenali ciri nabi akhir zaman.
Mereka tahu tentang kedatangan Nabi Muhammad.
Tetapi apabila nabi itu datang bukan daripada bangsa mereka… mereka menolak.
Kenapa?
Kerana dengki.
Tadabbur
Kadang manusia bukan tidak nampak kebenaran.
Tetapi: dia tidak suka orang lain mendapat kedudukan, kemuliaan atau perhatian.
Dengki ialah penyakit yang boleh memadam cahaya hati.
Sebab itu syaitan jatuh bukan kerana tidak kenal Allah…
tetapi kerana sombong dan dengki kepada Nabi Adam.
Muhasabah
Hati yang bersih akan gembira melihat orang lain mendapat hidayah dan kejayaan.
Hati yang sakit pula akan rasa panas walaupun melihat orang lain buat kebaikan.
8. Selepas Diselamatkan Allah, Mereka Masih Lalai
(Ayat 92)
Selepas Allah menyelamatkan mereka melalui mukjizat besar bersama Nabi Musa…
mereka tetap menyembah anak lembu.
Tadabbur
Inilah sifat manusia: cepat lupa nikmat Allah.
Waktu susah:
menangis berdoa
mencari Allah
Waktu senang:
mula lalai
mula jauh daripada Allah
Hari ini manusia mungkin tidak menyembah patung…
tetapi ramai menyembah:
duit
status
nafsu
populariti
manusia
dunia
Apa sahaja yang paling kita takuti kehilangannya dan paling kita cintai melebihi Allah… itulah “berhala” hati kita.
Penutup: Kisah Mereka Adalah Cermin Untuk Kita
Allah tidak menceritakan kisah Bani Israil untuk menghina mereka semata-mata.
Tetapi supaya umat akhir zaman tidak mengulangi kesilapan yang sama.
Kadang kita membaca ayat-ayat ini lalu berkata:
“Teruknya mereka.”
Sedangkan mungkin sedikit demi sedikit sifat itu sedang hidup dalam diri kita:
ego
riak
memilih agama ikut nafsu
malas berubah
suka dosa tersembunyi
keras hati
Sebab itu tadabbur Quran bukan sekadar membaca…
tetapi membiarkan ayat Allah menegur hati kita.
Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran, walaupun pahit.
Dan semoga Allah tidak menjadikan hati kita seperti hati yang disebut dalam ayat-ayat ini.
Amin Ya Rabbal Alamin. 🤍

Comments
Post a Comment